Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Pada postingan kali ini kita akan membahas apa sih Isra' dan Mi'raj itu dan mengapa
penting dalam sejarah islam? Sebelum ke sana, kita harus tahu fakta di masa
itu. Kehadiran Rasulullah SAW mendakwahkan kebenaran dari Allah SWT rupanya
membuat orang-orang musyrik Makkah benar-benar kehilangan kesabaran. Rintangan
dan terror yang ditujukan kepada Nabi dan para pengikutnya tidak lagi
mempertimbangkan waktu. Orang-orang Musyrik benar-benar tidak memberikan
sedikitpun kepada Rasulullah dan para pengikutnya untuk dapat bernafas lega
dari kedengkian dan kejahatan mereka.
Namun pada tahun kedelapan dari kenabian,
Rasulullah SAW justru mendapatkan beberapa cobaan yang teramat berat baginya
dan bagi para pengikutnya. Ujian itu adalah embargo kaum kafir Quraisy dan
sekutunya terhadap umat Islam. Aksi embargo ini masih dijalankan meskipun waktu
telah memasuki bulan Haram. Artinya Nabi beserta para sahabatnya tetap
merasakan penganiayaan dan kedhaliman dari mereka yang biasanya menghentikan
segala aktivitas permusuhan terhadap lawan-lawannya.
Setelah delapan tahun mendakwahkan agama
Allah kepada kaumnya dengan didampingi dan dilindungi oleh dua orang kuat suku
Qurays, yakni pamannya Abu Thalib dan istrinya Khadijah, maka pada tahun ini
Rasulullah pun harus rela ketika keduanya dipanggil menghadap Sang Rabb. Dengan
demikian, pada waktu itu Nabi tiada lagi memiliki pembela yang cukup kuat di
hadapan kaumnya sendiri yang memusuhi kebenaran. Dalam sejarah Islam tahun ini
disebut ’amul huzni, tahun kesedihan.
Rasulullah kemudian mengijinkan para
pengikutnya untuk berhijrah ke Thaif. Namun rupanya Bani Tsaqif yang menguasai
tanah Thaif tidaklah memberikan sambutan hangat kepada para sahabatnya. Mereka
yang datang meminta pertolongan justru diusir dan dihinakan sedemikian rupa.
Mereka dilempari batu hingga harus kembali dengan kondisi berdarah-darah.
Keseluruh cobaan berat ini dialami
Rasulullah dan para sahabatnya pada tahun yang sama, yakni tahun kedelapan kenabian.
Atas cobaan yang teramat berat dan
bertubi-tubi ini, maka Allah SWT kemudian memberikan ”sekadar hiburan” kepada
Muhamad SAW yang sedang berkabung dengan segala keadaan dan perasaannya.
Rasulullah menerima ”sepaket perjalanan rekreasi” untuk menyegarkan kembali
ghirroh (semangat) perjuangannya dalam menegakkan misi Tauhid di Bumi.
”Paket perjalanan” yang kemudian disebut
sebagai Isra’ Mi’raj ini sejatinya adalah sebuah pesan kepada seluruh umat
Muhammad bahwa, segala macam cobaan yang seberat apa pun haruslah kita lihat
sebagai sebuah permulaan dari akan dianugerahkannya sebuah kemuliaan kepada
kita.
Dalam peristiwa itu, tepatnya 27 Rajab,
Nabi Muhammad SAW dapat saja langsung menuju langit dari Makkah, namun Allah
tetap membawanya menuju Masjidil Aqsha, pusat peribadahan nabi-nabi sebelumnya.
Ini dapat berarti bahwa umat Islam tidak memiliki larangan untuk berbuat baik
terhadap sesama manusia, sekalipun kepada golongan di luar Islam. Hal ini
dikarenakan, Islam menghargai peraturan-peraturan sebelum Islam, seperti halnya
khitan yang telah disyariatkan sejak zaman Nabi Ibrahim AS.
Perintah Shalat
Setelah melampaui Masjidil Aqsha, Nabi
langsung diangkat naik sampai ke langit tujuh, lalu Sidratul Muntaha dan Baitul
Ma’mur.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan, pada saat
peristiwa Mi’raj, Nabi Muhammad SAW berada di Baitul Ma’mur, Allah SWT
mewajibkannya beserta umat Islam yang dipimpinnya untuk mengerjakan shalat
limapuluh kali sehari-semalam. Nabi Muhammad menerima begitu saja dan langsung
bergegas.
Namun Nabi Musa AS memperingatkan, umat
Muhammad tidak akan kuat dengan limapuluh waktu itu. ”Aku telah belajar dari
pengalaman umat manusia sebelum kamu. Aku pernah mengurusi Bani Israil yang
sangat rumit. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mitalah keringanan untuk umatmu.”
Nabi Muhammad kembali menghadap Sang Rabb,
meminta keringanan dan ternyata dikabulkan. Tidak lagi limapuluh waktu, tapi
sepuluh waktu saja. Nabi Muhammad pun bergegas. Namun Nabi Musa tetap tidak
yakin umat Muhammad mampu melakukan shalat sepuluh waktu itu. ”Mintalah lagi
keringanan.” Nabi kembali dan akhirnya memeroleh keringanan, menjadi hanya lima
waktu saja.
Sebenarnya Nabi Musa masih berkeberatan
dengan lima waktu itu dan menyuruh Nabi Muhammad untuk kembali meminta
keringanan. Namun Nabi Muhammad tidak berani. “Aku sudah meminta keringanan
kepada Tuhanku, sampai aku malu. Kini aku sudah ridha dan pasrah.”
Nabi Muhammad memang mengakui bahwa
pendapat Nabi Musa AS itu benar adanya. Lima kali shalat sehari semalam itu
masih memberatkan. Namun lima waktu itu bukankah sudah merupakan bentuk
keringanan?! Demikianlah.
Shalat telah diwajibkan bagi Nabi Muhammad
SAW dan para pengikutnya sejak diturunkannya firman Allah pada awal kenabian,
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ.
قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلاً
Hai orang yang berselimut
(Muhammad),),bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit
(daripadanya)… (QS. Al-Muzzammil, 73:1-19)
Ini adalah petunjuk bahwa Rasulullah dan
para pengikutnya yang baru berjumlah sedikit kala itu memiliki kewajiban untuk
bangun pada tengah malam untuk menjalankan kewajiban. Menurut Ibnu Abbas,
Ikrimah, Mujahid, al-Hasan, Qatadah, dan ulama salaf lainnya, kewajiban shalat
malam dihapuskan setelah ayat ke 20 atau ayat terakhir dari surat al-Muzammil
ini diturunkan oleh Allah SWT.
إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَى مِن ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِّنَ الَّذِينَ مَعَكَ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ عَلِمَ أَن لَّن تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ فَاقْرَؤُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ
الْقُرْآنِ عَلِمَ أَن
سَيَكُونُ مِنكُم مَّرْضَى وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي
الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن
فَضْلِ اللَّهِ
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya
kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam
atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama
kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu
sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia
memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al
Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan
orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah…
Pelaksanaan ibadah shalat menunjukkan bahwa
Baitul Maqdis di Yerusalem merupakan salah satu tempat sangat penting posisinya
dalam agama Islam sebagai kiblat pertama umat Islam. Kurang lebih 13 tahun
lamanya Nabi Shalat dan para pengikutnya menghadap Baitul Maqdis, sebelum
akhirnya Allah memerintahkan umat Islam untuk memindahkan kiblatnya ke Ka’bah
di Makkah. Pemindahan arah kiblat ini terjadi di tengah-tengah ibadah shalat
sedang berlangsung. Masjid tempat dilaksanakan shalat ketika perintah berpindah
kiblat ini diturunkan hingga sekarang disebut sebagai Masjid Kiblatain (Masjid
Dua Kiblat).
Allah senantiasa melibatkan Masjidil Aqsho
dalam setiap perkembangan ajaran-ajaran seputar Shalat. Termasuk menghadap ke
Baitul Maqdis sebelum dipindahkan kiblatnya ke Ka’bah. Perintah Shalat lima
waktu diterima setelah Rasulullah dikaruniai singgah di Baitul Maqdis (QS.
Al-Isra’, 17:1) dalam perjalanan menuju Sidratul Muntaha.
Imam Syafi’i menyatakan, “Saya sangat suka
beri’tikaf di Masjid (Baitul Maqdis), lebih dari Masjid manapun.” Ketika
ditanya alasannya, Beliau menjawab, “Di sinilah tempat berkumpul dan
dikuburkannya beberapa Nabi Allah.”
Waktu-waktu Shalat
Jabir bin Abdullah RA menceritakan bahwa
pada suatu siang sebelum Matahari benar-benar di atas titik atas tertinggi,
Rasulullah Muhammad SAW kembali didatangi oleh malaikat Jibril AS seraya berkata
kepadanya, ”Bangunlah Wahai Rasulullah dan lakukan shalat.”
Mendengar panggilan ini, Maka Nabi Muhammad
pun segera melakukan shalat Dzuhur ketika Matahari telah mulai tergelincir.
Ketika bayang-bayang tampak telah mulai
lebih panjang dari sosok asli benda-benda, malaikat Jibril berkata, ”Bangun dan
lakukan shalat lagi.”
Demi mendengar perintah ini pun, Rasulullah
SAW kemudian segera melakukan shalat Ashar ketika panjang bayangan segala benda
melebihi panjang benda-benda. Kemudian waktu Maghrib menjelang dan Jibril
berkata, ”Bangun dan lakukan shalat.” Maka beliau SAW melakukan shalat Maghrib
ketika matahari terbenam.
Kemudian waktu Isya` menjelang dan Jibril
berkata, ”Bangun dan lakukan shalat.” Maka Rasulullah SAW pun segera melakukan
shalat Isya` ketika syafaq (mega senja merah) menghilang. Waktu sholat Isya’
ini menjadi waktu sholat terpanjang karena Jibril baru membangunkan kembali
nabi Muhammad ketika fajar kedua telah mulai menjelang.
Kemudian waktu Shubuh menjelang dan Jibril
berkata, ”Bangunlah wahai Rasulullah dan lakukanlah shalat.” Maka Rasulullah
SAW melakukan shalat Shubuh ketika waktu fajar menjelang. (HR Ahmad, Nasa’i dan
Tirmidzy)
Tentang waktu sholat Shubuh ini Abu
Hurairah RA meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, ”Orang
yang mendapatkan satu rakaat dari shalat shubuh sebelum tebit matahari, maka
dia termasuk orang yang mendapatkan shalat shubuh. Dan orang yang mendapatkan
satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam, maka dia termasuk
mendapatkan shalat Ashar.” (HR Muslim).
#sejarah islam
#peristiwa isra' mi'raj
#perintah shalat 5 waktu
#waktu-waktu shalat

Komentar
Posting Komentar